Kamis, 28 Januari 2016

PILIHAN KATA, KALIMAT, KERANGKA KARANGAN

DIKSI (PILIHAN KATA)
Diksi, dalam arti pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua, arti “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan kata-kata seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya. Harimurti (1984) dalam kamuslinguistic, menyatakan bahwa diksi adalah pilhan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di dalam karang mengarang.
Dalam KBBI (2002: 264) diksi diartikan sebagai pilihan kata yanng tepat dan selaras dalam penggunaanya untuk menggungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan. Jadi, diksi berhubungan dengan pengertian teknis dalam hal karang-mengarang, hal tulis-menulis, serta tutur sapa.

Persyaratan Diksi
Ada dua persyaratan yang harus dipenuhi dalam memilih kata-kata, yaitu persyaratan ketetapan dan kesesuaian. Tepat, artinya kata-kata yang dipilih itu dapat mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin diungkapkan. Di samping itu, ungkapan itu juga harus dipahami pembaca dengan tepat, artinya tafsiran pembaca sama dengan apa yang dimaksud dengan penulis. Untuk memenuhi persyaratan ketetapan dan kesesuaian dalam pemilihan kata, perlu diperhatikan a) kaidah kelompok kata/ frase, b) kaidah makna kata, c) kaidah lingkungan sosial, d) kaidah karang –mengarang.
Secara umum, makna kata suatu kata dibedakan atas makna denotasi dan makna konotasi.
· Denotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang sesuai dengan konsep awal, apa adanya, dan tidak mengandung makna tambahan. Makna denotasi disebut juga makna konseptual, makna lugas, atau makna objektif.
Contoh:
a. Dompet hitamnya tertinggal di kamar hotel.
Hitam = jenis warna
b. Wilayah Kebun Raya Bogor dikelilingi pagar besi
Besi = logam yang sangat keras.
· Konotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran seseorang. Konotasi sebenarnya merupaka makna denotasi yang telah mengalami penambahan-penambahan, baik dari sikap sosial, lingkungan geografis, atau pun dari factor kesejarahan. Makna konotasi disebut juga makna kontekstual, kiasan, atau makna subjektif.
Contoh:
a. Sejak peristiwa itu ia berhasil keluar dari lembah hitam,
Hitam = hina, sengsara, berduka.
b. Semua orang mengenalnya sebagai laki-laki bertangan besi
Besi = gagah, perkasa = tangan besi.

Disamping makna denotasi dan konotasi, dikenal pula jenis makna lain, diantaranya berikut.
· Makna Leksikal, yaitu makna yang didasarkan pada kamus. Makna ini dimiliki oleh kata-kata sebelumnya mengalami proses perubahan bentuk atau pun kata yang belum digunakan dalam kalimat. Makna leksikal dimiliki oleh kata bentuk dasar, misalnya: ibu, pergi,kantor.
·  Makna Gramatikal, yaitu makna yang dimiliki kata setelah mengalami proses gramatikal, seperti pengimbuhan, pengulangan, atau pemajemukan. Misalnya: ibu saya, berpergian, kantor-kantor.
· Makna kontekstual, yaitu makna suatu kata yang sangat bergantung pada situasi dan kondisi penggunaannya.

Contoh:
1)      Pantas saja ia menjadi juara kelas karena ia anak rajin.
2)      Betul-betul rajin kami ini, semua pekerjaan rumah saja tidak ada satupun yang di kerjakan.

Perubahan Makna Kata
Bahasa selalu berkembangsejalan dengan kemajuan peradaban manusia. Hal ini dapat berpengaruh terhadap perubahan makna kata. Kadang-kadang makna kata bergeser akibat pengaruh konotasi dalam pemakaian suatu kata.
Beberapa bentuk perubahan makna itu ialah:
1. Meluas
Pada kata putra dan putrid, dahulu kata tersebut hanya di peruntukan bagi anak-anak raja, tetapi sekarang kata tersebut biasa digunakan untuk umum, tidak hanya untuk menyebut anak raja. Putra berarti anak laki-laki dan putrid anak perumpuan. Bahkan di sekolah, kataputra dan putri juga biasa digunakan untuk menunjuk murid laki-laki dan murid perempuan.
2. Menyempit.
Pada kata ulama, dahulu kata tersebut digunakan dengan makna kata yang lebih luas, yaitu orang yang berilmu, dalam arti orang yang pandai segala di siplin ilmu, baik ilmu agama islam, atau ilmu lainya, misalnya ahli perbintangan dan ahli matematika. Namun, kata ulamasekarang ini hanya digunakan untuk menunjukan orang yang ahli dalam bidang ilmu agama saja. Begitu juga dengan kata ustad. Kata tersebut mempunyai arti seorang guru, dalam arti guru mata pelajaran apa saja. Namun dalam penggunaannya di Indonesia kata tersebt hanya diperuntukan bagi guru yang mengajar mata peajaran agama Islam saja.
3. Amelioratif
Amelioratif adalah suatu proses perubahan makna kata. Pada Proses amelioratif ini, suatu kata mempunyai nilai lebih tinggi atau terhormat dibandingkan sebelumnya. Misalnya, kataperempuan dirasakan lebih tinggi nilainya dari kata wanita dan kata suami dirasakan lebih tinggi nilainya atau lebih baik dari kata laki.
4. Penyoratif
Peyoratif adalah kebalikan dari ameliorative yaitu suatu proses perubahan makna kata. Pada proses peyoratif, arti kata baru dirasakan lebih rendah dari kata sebelumnya. Kata jongosdulu berarti pembantu atau pelayan sekarang arti jongos dipakai ntuk arti yang kurang baik.
5. Sinestesia
Sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan. Misalnya: Sambutanya dingin. Kata dingin sebenarnya adalah tanggapan indra peraba. Wajahnya manis. Kata manis merupakan tanggapan indra perasa. Mukanya asam. Kata asam merupakan tanggapan indra perasa.
6. Asosiasi
Asosiasi adalah perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Kata mulut buaya adalah alat tubuh buaya yang berfungsi untuk menjepit mangsanya. Akan tetapi, kata mulut buaya di dalam istilah alat-alat lsitrik digunakan sebagai alat penjepit kabel atau kawat. Kata gigi adalah organ tubuh manusia atau makhluk hidup. Akan tetapi, di dalam istilah otomotif, gigi mempunyai makna alata untuk mengatur perputaran kecepatan pada kendaraan bermotor, misalnya gigi satu digunakan pada kecepatan rendah, sedangkan gigi emnpat diguanakan untuk menjalankan kendaraan pada kecepatan tinggi.

Memahami Bentuk Kata
Kata dibedakan atas kata dasar dan kata bentukan. Kata dasar adalah kata yang menjadi dasar pembentukan kata atau kata-kata yang belum mendapatkan imbuhan (afiks). Kata ini memiliki makna leksikal, misalnya air, perahu, tidur, baca, datang, gembira, dan , panas.
Kata bentukan diperoleh melalui proses pengimbuhan (afiksasi), pengulangan (reduplikasi), dan pemajemukan.
1. Proses afiksasi, yaitu penggabungan antara kata dasar dengan imbuhan (afiks), baik awalan (prefiks), akhiran (sufiks) maupun gabungan-gabunganya.
Contoh: memotong, berlari, dicabut, dibeli, kepanasan, kegembiraan, dan kedatangan.
2. Proses reduplikasi, yaitu pengulangan kata dasar itu sendiri sebagian pengimbuhan (afiksasi).
Contoh: sayur-sayuran, menari-nari, melambai-lambai, jalan-jalan, lebar-lebar, dan berkata-kata.
3. Proses pemajemukan, yaitu penggabungan antara kata dasar dengankata yang lain yang pada umumnya bersifat tetap dan memiliki makna khusus.
Contoh: kambing hitam, rumah sakit, kantor pos, luar negeri, tata bahasa, dan kereta api.
Dalam proses pengimbuhan (afiksasi) terjadi berbagai bentuk imbuhan (afiks).
Misalnya me-­ menjadi: menari, menanam, menumpuk
imbuhan men- menjadi: mencuri, mendapa
imbuhan meng- menjadi: menghadap, mengajar, menghalau 
imbuhan meny- menjadi:menyusul, menyutik, menyanyi
imbuhan menge- menjadi: mengepel, mengecoh, mengejar. 

KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memilki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah,jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
Efektif mengandung pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan berguna jika dipakai pada sasaran ynag tepat. Pengertian efektif dalam kalimat adalah ketepatan penggunaan kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situaisi kebahasaan tertentu pula.

Beberapa definisi kalimat efektif menurut beberapa ahli bahasa:
  1. Kalimat Efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja. tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
  2. Kalimat Efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami orang lain secara tepat.(Akhadiah, Arsjad dan Ridwan: 2001)
  3. Kalimat Efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin 1989)
  4. Kalimat Efektif diapahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca.(Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi: 2009)
  5. Kalimat Efektif di pahami sebagai sebuah kalimat yang dapat membantu menjelaskan sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas, padat dan mudah dimengerti serta di artikan. (Arif HP:2013)

Kalimat Efektif di tuntut oleh empat ketepatan yakni
  1. Ketepatan pilihan kata
  2. Ketepatan bentuk kata
  3. Ketepatan pola kalimat
  4. Ketepatan makna kalimat

Ciri-ciri Kalimat Efektif
  1. Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP
  2. Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku
  3. menggunakan diksi yang tepat
  4. Menggunakan lesepadanan antara strukur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis
  5. Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai
  6. Melakukan penekanan ide pokok
  7. Mengacu pada kehematan penggunaan kata
  8. menggunakan variasi struktur kalimat

Syarat-Syarat Kalimat Efektif
Ø  Kesatuan Gagasan
Kalimat efektif harus memiliki kesatuan gagasan dan mengandung satu ide pokok (satu pengertian lengkap). Kalimat dikatakan memiliki kesatuan gagasan jika memiliki subjek, predkat dan fungsi-fungsi kalimat lainnya saling mendukung dan memebentuk kesatuan tunggal. Dengan demikian, kalimat haruslah mengandung unsur subjek dan predikat sebagai unsur inti sebuah kalimat. Kehadiran unsur-unsur lain (objek, predikat, ataupun keterangan) hanyalah sebagai tambahan bagi unsur inti.
contoh:
Kalimat yang jelas kesatuan gagasannya
a. Kita merasakan dalam kehidupan sehari-hari, betapa emosi itu seringkali merupakan tenaga pendorong yang amat kuat dalam tindakan kehidupan kita (Kesatuan Tunggal).
b. Dia telah menginggalkan rumahnya jam enam pagi, dan berangkat dengan pesawat satu jam yang lalu(Kesatuan Gabungan)
c. Ayah bekerja di perusahaan pengankutan itu, tetapi ia tidak senang deengan pekerjaan itu. (Kesatuan yang mengandung pertentangan).
d. Kau boleh menyusul saya ke tempat itu, atau tinggal saja disini (kesatuan pilihan).

Ø  Kepaduan/Koherensi
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
  • Kalimat tidak bertele-tele dan harus sistematis
  • Kalimat padu menggunakan pola aspek-verbal atau aspek-verbal-pasien.
  • Diantara presikat kata kerja dan objek penderita tidak disisipkan kata daripada/tentang.
Yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Bagaimana hubungan anatar subyek predikat dan predikat, hubungan antara predikat dengan obyek serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tadi.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan koherensi yaitu:
1) Tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat
benar: Saudara saya yang paling kecil kemarin sore menendang bola di lapangan, dengan sekuat tenaganya.
salah: Saudara saya yang paling kecil menendang dengan sekuat tenaganya kemarin sore di lapangan bola.
2) Salah mempergunakan kata-kata depan, kata penghubung dan sebagainya.
benar: mengharapkan belas kasihan
salah:  mengharapakan akan belas kasihan
3) Pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau hakikatnya mengandung kontradiksi.
contoh:
Banyak para peninjau yang menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsungitu merupakan Perang Dunia di Timur Tengah (atau banyak peninjau atau para peninjau; makna banyak dan para tidak tumpang tindih).
4) Salah menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum, dsb) pada kata kerja tanggap.
contoh:
baik: Saya sudah menonton film itu hingga tamat
kurang baik: Saya sudah nonton film itu hingga tamat.
tidak baik: Film itu saya sudah tonton hingga tamat. 

Ø  Kehematan
 Unsur lain yang penting untuk mencapai kalimat efektif adalah kehematan. Yang di maksud dengan kehematan ialah kehematan yang mempergunakan kata, frase, atau bentuk lain yang di anggap tidak perlu. Dalam arti tidak mengubah kejelasan kalimat. Penghematan disini juga menghindari kata-kata yang mubazir, sejauh tidak menyalahi kaidah-kaidah tata bahasa.
contoh:
Bunga-bunga mawar, ayelir dan melati sangat disukainya.

Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir, dan malati terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar adalah:
Mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.

Ø  Penekanan
Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
1) Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakan bagian yang penting di depan kalimat.
contoh:
- Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain
- Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
2) Menggunakan partikel: penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel -lah, -pun, dan -kah.
contoh:
- Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
- Kami pun turut dalam kegiatan itu.
- Bisakah dia menyelesaikannya?
3) Menggunakan repitisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.
contoh:
Dalam membina hubungan anatar suami istri, antara guru dan murid, anatar orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat. diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.
4) Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yag bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin di tegaskan.
contoh:
- Anak itu tidak malas, tetapi rajin
- Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan menyeluruh.

Ø  Kevariasian
Keefektifan dalam penulisan tergambar dalam struktur kalimat yang di pergunakan. Ada kalimat pendek, dan kalimat panjang. Kalimat yang panjang dapat membuat pembaca kehilangan pegangan akan ide pokok, dan membosankan, sehingga menjadi monoton. Oleh sebab itu perlu dilakukan variasi kalimat.

1) Dalam variasi kalimat, kalimat pembuka dapat dimulai atau dengan frase benda, frase kerja, dan frase keterangan.
contoh:
  1. Si Badu dari Universitas Indonesia menganggap hal ini sebagai hasil yang gemilang. (kalimat ini dimulai dengan frase benda)
  2. Dibuang jauh-jauh pikiran yang menghantuinya selama ini. (kalimat ini dimulai dengan frase kerja)
  3. Pukul 15.00 Wib Pesta Olahraga Asia Tenggara XIV dibuka oleh bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono. (kalimat ini dimulai dengan frase Keterangan)
2) Variasi dalam Pola Kalimat
a.  anak itu tidak mengerti mengerti dengan masalah itu.
            S                  P                               O
b. Kalimat mengerti anak itu dengan masalah itu.
            P               S                          O

Ø  Kelogisan
Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
contoh:
Waktu dan tempat saya persilahkan
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya:
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.

Ø  Keparalelan atau Kesejajaran
Adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya menggunakan kata kerja berimbuhan me- juga.
contoh:
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
Kakak menolong ana itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Harga sembako dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak efektif)

Ø  Kecermatan dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.
  1. Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah
  2. Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat (1) memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi
Kalimat (2) memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Perhatikan kalimat berikut.
- Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan menteri.
Kalimat ini salah pilihan katanya karena memiliki dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi
- Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang dan para menteri.


 KERANGKA KARANGAN
Kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Kerangka karangan yang belum final di sebut outline sementara sedangkan kerangka karangan yang sudah tersusun rapi dan lengkap disebut outline final.
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas,susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan, atau dapat juga didefinisikan sebagai satu metode dalam pembuatan karangan yang mana topiknya dipecah kedalam sub-sub topik dan mungkin dipecah lagi kedalam sub-sub topik yang lebih terperinci.

Fungsi & Manfaat Kerangka Karangan
Fungsi Kerangka Karangan yaitu:
  1. Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan sistematis. 
  2. Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap permasalahan.
  3. Membantu menyeleksi materi yang penting maupun yang tidak penting.
Sedangkan Manfaat Kerangka Karangan sendiri adalah:
  1. Untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
  2. Untuk menyusun karangan secara teratur. Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
  3. Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai klimaks tersendiri dalam bagiannya. Supaya pembaca dapat terpikat secara terus menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula sekian macam sehingga tercapai klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
  4. Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap bagian dari karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu, karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu berbeda dengan yang diutarakan pada bagian kemudian, atau bahkan bertentangan satu sama lain. Hal yang demikian ini tidak dapat diterima. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi akan diuraikan, sedangkan di bagian lain cukup dengan menunjuk kepada bagian tadi.
  5. Memudahkan penulis mencari materi pembantu. Dengan mempergunakan rincian-rincian dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian mana dalam karangannya itu. Bila seorang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah siap, ia dapat menyusutkan kembali kepada kerangka karangan yang hakekatnya sama dengan apa yang telah dibuat penggarapnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu. Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyelurih, bukan secara terlepas-lepas.

Syarat-Syarat Kerangka Karangan Yang Baik
1. Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas. Pilihlah topik yang merupakan hal yang khas, kemudian tentukan tujuan yang Jelas. Kemudian buatlah tesis atau pengungkapan maksud.
2. Tiap unit hanya mengandung satu gagasan. Bila satu unit terdapat lebih dari satu gagasan, maka unit tersebut harus dirinci.
3. Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis, sehingga rangkaian ide atau pikiran itu tergambar jelas.
4. Harus menggunakan simbol yang konsisten. Pada dasarnya untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah-langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan.

Pola Susunan Kerangka Karangan
Secara garis besar, pola kerangka karangan dibagi menjadi dua yaitu pola alamiah dan pola logis, berikut akan di jelaskan secara singkat pola susunan kerangka karangan.
Ø  Pola Alamiah
Merupakan suatu urutan unit–unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Disebut pola alamiah karena memakai pendekatan berdasarkan faktor alamiah yang esensial. Pola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan waktu.
Pola alamiah dapat terbagi menjadi 3 yaitu :

  • Urutan Berdasarkan Waktu (kronologis). Urutan kronologis adalah urutan yang didasarkan pada runtunan peristiwa atau tahap-tahap kejadian berdasarkan kronologinya. Peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.
  • Urutan Berdasarkan Ruang (spasial). Urutan spasial merupakan urutan yang didasarkan pada ruang atau tempat yang biasanya digunakan dalam tulisan bersifat deskriptif.
  • Topik yang ada. Suatu pola peralihan yang dapat di masukkan dalam pola alamiah adalah urutan berdasarkan topik yang ada . Suatu peristiwa sudah di kenal dengan bagian–bagian tertentu . Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian–bagian itu harus di jelaskan berturut–turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa memberi tanggapan atas bagian–bagiannya itu.
Ø  Pola Logis
Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu di tuang dalam suatu susunan atau urutan logis . Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis.
Dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikir atau cara pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika. Pola logis dapat dibagi menjadi 6, yaitu :
a. Urutan klimaks dan anti klimaks
Posisi suatu rangkaian yang penting berada pada akhir rangkaian disebut urutan klimaks. Sedangkan posisi yang yang penting berada di awal karangan disebut anti klimaks.

b.Kausal
Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab . Pada pola pertama suatu masalah di anggap sebagai sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan perincian–perincian yang menelusuri akibat–akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan–persoalan yang di hadapi umat manusia pada umumnya.

c. Urutan pemecahan masalah
Urutan pemecahan masalah dimulai dari suatu masalah tertentu kemudian berkembang menuju kesimpulan umum atau pemecahan suatu masalah tersebut. Landasan pemecahan masalah terdiri dari 3 bagian, yaitu :
  1. Deskripsi      :  Mengenai persoalan atau masalah
  2. Analisa         :  Mengenai sebab akibat dari persoalan
  3. Alternatif      :  Untuk jalan keluar suatu masalah

d.Umum khusus
Dimulai dari pembahasan topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan pembahasan secara terperinci (khusus).

e. Familiaritas
Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal, kemudian berangsur–angsur pindah kepada hal–hal yang kurang di kenal atau belum di kenal. Dalam keadaan–keadaan tertentu cara ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.

f. Akseptabilitas
Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca.
Langkah-Langkah Penyusunan Kerangka Karangan
1. Menentukan tema dan judul
Tema sangat terpengaruh terhadap wawasan penulis. semakin banyak penulis membiasakan membaca buku, semakin banyak aktifitas menulis akan memperlancar penulis memperoleh tema. namun, bagi pemula perlu memperhatikan beberapa hal penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan. diantaranya :
  • Jangan mengambil tema yang bahasannya terlalu luas.
  • Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini dapat kita kembangkan.
  • Pilih tema yang sumber atau bahan-bahannya dapat dengan mudah kita peroleh.
  • Judul tidak harus sama dengan topik.
  • Jika topik sekaligus menjadi judul, biasanya karangan akan bersifat umum dan ruang lingkupnya sangat luas.
  • Judul dibuat setelah selesai menggarap tema, sehingga bisa terjamin bahwa judul itu cocok dengan temanya.
  •  Sebuah judul yang baik akan merangsang perhatian pembaca dan akan cocok dengan temanya.
  • Judul hanya menyebut ciri-ciri yang utama atau yang terpenting dari karya itu, sehingga pembaca sudah dapat membayangkan apa yang akan diuraikan dalam karya itu.
  • Ada judul yang mengungkapkan maksud pengarang, misalnya dalam sebuah laporan eksposisi.

Syarat judul yang baik :
  • Harus relevan, judul harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau dengan beberapa bagian yang penting dari tema tersebut. 
  • Judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi buku atau karangan.
  • Harus singkat, tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Bila harus membuat judul yang panjang, ciptakanlah judul utama yang singkat dengan judul tambahan yang panjang.
  • Tidak provokatif. 
Judul karangan yang baik :
  • singkat dan padat
  • menarik perhatian
  • menggambarkan garis besar (inti) pembahasan

2. Mengumpulkan bahan
Bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan, banyak cara mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara masing - masing sesuai juga dengan tujuan tulisannya.

3. Menyeleksi bahan
Agar tidak terlalu bias dan abstrak, perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan. polanya melalui klarifikasi tingkat urgensi bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis. Berikut ini petunjuk-petunjuknya :
  • Hal penting semampunya.
  • Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
  • Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah.

4. Membuat kerangka
Kerangka karangan menguraikan tiap topik atau masalah menjadi beberapa bahasan yang lebih fokus dan terukur. Kerangka karangan belum tentu sama dengan daftar isi atau uraian per bab. Kerangka ini merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna.
Tahapan dalam menyusun kerangka karangan :
  • Mencatat gagasan. Alat yang mudah digunakan adalah pohon pikiran (diagram yang menjelaskan gagasan-gagasan yang timbul)
  • Mengatur urutan gagasan
  • Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab
  • Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap
  • Kerangka karangan yang baik adalah kerangka yang urut dan logis. Karena bila terdapat ide yang bersilangan, akan mempersulit proses pengembangan karangan. (karangan tidak mengalir).

5. Mengembangkan kerangka karangan

Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan materi yang hendak di tulis. Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang dikumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan. pengembangan karangan juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan yang lain. Untuk itu pengembangannya harus sistematis, dan terarah. Begitu juga dengan pengembangannya.

SUMBER : http://masagusfaisal.blogspot.com/2013/12/makalah-kerangka-karangan-outline.html
Modul pembelajaran Bahasa Indonesia MATRA kelas XI semester 1 hal 22-27 Cilangkap: Media Presindo.
https://www.scribd.com/doc/58742827/BAHASA-ILMIAH