DIKSI (PILIHAN KATA)
Diksi, dalam arti
pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau
pembicara. Arti kedua, arti “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan kata-kata
seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga
kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan
dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya. Harimurti (1984) dalam
kamuslinguistic, menyatakan bahwa diksi adalah pilhan kata dan
kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam berbicara di dalam karang
mengarang.
Dalam KBBI (2002: 264)
diksi diartikan sebagai pilihan kata yanng tepat dan selaras dalam penggunaanya
untuk menggungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang
diharapkan. Jadi, diksi berhubungan dengan pengertian teknis dalam hal
karang-mengarang, hal tulis-menulis, serta tutur sapa.
Persyaratan Diksi
Ada dua persyaratan yang
harus dipenuhi dalam memilih kata-kata, yaitu persyaratan ketetapan dan
kesesuaian. Tepat, artinya kata-kata yang dipilih itu dapat mengungkapkan
dengan tepat apa yang ingin diungkapkan. Di samping itu, ungkapan itu juga
harus dipahami pembaca dengan tepat, artinya tafsiran pembaca sama dengan apa
yang dimaksud dengan penulis. Untuk memenuhi persyaratan ketetapan dan
kesesuaian dalam pemilihan kata, perlu diperhatikan a) kaidah kelompok kata/
frase, b) kaidah makna kata, c) kaidah lingkungan sosial, d) kaidah karang
–mengarang.
Secara umum, makna
kata suatu kata dibedakan atas makna denotasi dan makna konotasi.
· Denotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang sesuai dengan konsep awal, apa
adanya, dan tidak mengandung makna tambahan. Makna denotasi disebut juga makna
konseptual, makna lugas, atau makna objektif.
Contoh:
a. Dompet
hitamnya tertinggal di kamar hotel.
Hitam = jenis warna
b. Wilayah
Kebun Raya Bogor dikelilingi pagar besi
Besi = logam yang
sangat keras.
· Konotasi adalah
makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran
seseorang. Konotasi sebenarnya merupaka makna denotasi yang telah mengalami
penambahan-penambahan, baik dari sikap sosial, lingkungan geografis, atau pun
dari factor kesejarahan. Makna konotasi disebut juga makna kontekstual, kiasan,
atau makna subjektif.
Contoh:
a. Sejak
peristiwa itu ia berhasil keluar dari lembah hitam,
Hitam = hina,
sengsara, berduka.
b. Semua orang
mengenalnya sebagai laki-laki bertangan besi
Besi = gagah, perkasa
= tangan besi.
Disamping makna
denotasi dan konotasi, dikenal pula jenis makna lain, diantaranya berikut.
· Makna Leksikal, yaitu makna yang
didasarkan pada kamus. Makna ini dimiliki oleh kata-kata sebelumnya mengalami
proses perubahan bentuk atau pun kata yang belum digunakan dalam kalimat. Makna
leksikal dimiliki oleh kata bentuk dasar, misalnya: ibu, pergi,kantor.
· Makna Gramatikal, yaitu makna
yang dimiliki kata setelah mengalami proses gramatikal, seperti pengimbuhan,
pengulangan, atau pemajemukan. Misalnya: ibu saya, berpergian,
kantor-kantor.
· Makna kontekstual, yaitu makna
suatu kata yang sangat bergantung pada situasi dan kondisi penggunaannya.
Contoh:
1) Pantas
saja ia menjadi juara kelas karena ia anak rajin.
2) Betul-betul
rajin kami ini, semua pekerjaan rumah saja tidak ada satupun yang di kerjakan.
Perubahan Makna Kata
Bahasa selalu
berkembangsejalan dengan kemajuan peradaban manusia. Hal ini dapat berpengaruh
terhadap perubahan makna kata. Kadang-kadang makna kata bergeser akibat
pengaruh konotasi dalam pemakaian suatu kata.
Beberapa bentuk
perubahan makna itu ialah:
1. Meluas
Pada kata putra dan
putrid, dahulu kata tersebut hanya di peruntukan bagi anak-anak raja, tetapi
sekarang kata tersebut biasa digunakan untuk umum, tidak hanya untuk menyebut
anak raja. Putra berarti anak laki-laki dan putrid anak perumpuan. Bahkan di sekolah,
kataputra dan putri juga biasa digunakan untuk
menunjuk murid laki-laki dan murid perempuan.
2. Menyempit.
Pada kata ulama,
dahulu kata tersebut digunakan dengan makna kata yang lebih luas, yaitu orang
yang berilmu, dalam arti orang yang pandai segala di siplin ilmu, baik ilmu
agama islam, atau ilmu lainya, misalnya ahli perbintangan dan ahli matematika.
Namun, kata ulamasekarang ini hanya digunakan untuk menunjukan
orang yang ahli dalam bidang ilmu agama saja. Begitu juga dengan kata ustad.
Kata tersebut mempunyai arti seorang guru, dalam arti guru mata pelajaran apa
saja. Namun dalam penggunaannya di Indonesia kata tersebt hanya diperuntukan
bagi guru yang mengajar mata peajaran agama Islam saja.
3. Amelioratif
Amelioratif adalah
suatu proses perubahan makna kata. Pada Proses amelioratif ini, suatu kata
mempunyai nilai lebih tinggi atau terhormat dibandingkan sebelumnya. Misalnya,
kataperempuan dirasakan lebih tinggi nilainya dari kata wanita dan
kata suami dirasakan lebih tinggi nilainya atau lebih baik
dari kata laki.
4. Penyoratif
Peyoratif adalah
kebalikan dari ameliorative yaitu suatu proses perubahan makna kata. Pada
proses peyoratif, arti kata baru dirasakan lebih rendah dari kata sebelumnya.
Kata jongosdulu berarti pembantu atau pelayan sekarang arti jongos dipakai
ntuk arti yang kurang baik.
5. Sinestesia
Sinestesia adalah
perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan.
Misalnya: Sambutanya dingin. Kata dingin sebenarnya
adalah tanggapan indra peraba. Wajahnya manis. Kata manis merupakan
tanggapan indra perasa. Mukanya asam. Kata asam merupakan
tanggapan indra perasa.
6. Asosiasi
Asosiasi adalah
perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Kata mulut buaya adalah
alat tubuh buaya yang berfungsi untuk menjepit mangsanya. Akan tetapi, kata mulut
buaya di dalam istilah alat-alat lsitrik digunakan sebagai alat
penjepit kabel atau kawat. Kata gigi adalah organ tubuh manusia
atau makhluk hidup. Akan tetapi, di dalam istilah otomotif, gigi mempunyai
makna alata untuk mengatur perputaran kecepatan pada kendaraan bermotor,
misalnya gigi satu digunakan pada kecepatan rendah, sedangkan gigi emnpat
diguanakan untuk menjalankan kendaraan pada kecepatan tinggi.
Memahami Bentuk Kata
Kata dibedakan atas
kata dasar dan kata bentukan. Kata dasar adalah kata yang menjadi dasar
pembentukan kata atau kata-kata yang belum mendapatkan imbuhan (afiks). Kata
ini memiliki makna leksikal, misalnya air, perahu, tidur, baca, datang,
gembira, dan , panas.
Kata bentukan
diperoleh melalui proses pengimbuhan (afiksasi), pengulangan (reduplikasi), dan
pemajemukan.
1. Proses afiksasi, yaitu penggabungan
antara kata dasar dengan imbuhan (afiks), baik awalan (prefiks), akhiran
(sufiks) maupun gabungan-gabunganya.
Contoh: memotong,
berlari, dicabut, dibeli, kepanasan, kegembiraan, dan kedatangan.
2. Proses
reduplikasi, yaitu pengulangan kata dasar itu sendiri sebagian
pengimbuhan (afiksasi).
Contoh: sayur-sayuran,
menari-nari, melambai-lambai, jalan-jalan, lebar-lebar, dan berkata-kata.
3. Proses
pemajemukan, yaitu penggabungan antara kata dasar dengankata yang lain
yang pada umumnya bersifat tetap dan memiliki makna khusus.
Contoh: kambing hitam,
rumah sakit, kantor pos, luar negeri, tata bahasa, dan kereta api.
Dalam proses
pengimbuhan (afiksasi) terjadi berbagai bentuk imbuhan (afiks).
Misalnya me- menjadi: menari,
menanam, menumpuk
imbuhan men- menjadi: mencuri,
mendapa
imbuhan meng- menjadi: menghadap,
mengajar, menghalau
imbuhan meny- menjadi:menyusul,
menyutik, menyanyi
imbuhan menge- menjadi: mengepel,
mengecoh, mengejar.
KALIMAT
EFEKTIF
Kalimat efektif adalah
kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat
sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif dalam
hal ini adalah ukuran kalimat yang memilki kemampuan menimbulkan gagasan atau
pikiran pada pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah
kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat
sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah,jelas
dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
Efektif mengandung
pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan berguna jika dipakai pada sasaran
ynag tepat. Pengertian efektif dalam kalimat adalah ketepatan penggunaan kalimat
dan ragam bahasa tertentu dalam situaisi kebahasaan tertentu pula.
Beberapa definisi
kalimat efektif menurut beberapa ahli bahasa:
- Kalimat Efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat
komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja. tetapi juga harus hidup,
segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri
pembaca. (Rahayu: 2007)
- Kalimat Efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan
mudah dipahami orang lain secara tepat.(Akhadiah, Arsjad dan Ridwan: 2001)
- Kalimat Efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai
dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin 1989)
- Kalimat Efektif diapahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan
informasi dan informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca.(Nasucha,
Rohmadi, dan Wahyudi: 2009)
- Kalimat Efektif di pahami sebagai sebuah kalimat yang dapat membantu
menjelaskan sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas, padat dan mudah
dimengerti serta di artikan. (Arif HP:2013)
Kalimat
Efektif di tuntut oleh empat ketepatan yakni
- Ketepatan pilihan kata
- Ketepatan bentuk kata
- Ketepatan pola kalimat
- Ketepatan makna kalimat
Ciri-ciri
Kalimat Efektif
- Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP
- Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku
- menggunakan diksi yang tepat
- Menggunakan lesepadanan antara strukur bahasa dan jalan pikiran yang
logis dan sistematis
- Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai
- Melakukan penekanan ide pokok
- Mengacu pada kehematan penggunaan kata
- menggunakan variasi struktur kalimat
Syarat-Syarat
Kalimat Efektif
Ø Kesatuan Gagasan
Kalimat efektif harus
memiliki kesatuan gagasan dan mengandung satu ide pokok (satu pengertian
lengkap). Kalimat dikatakan memiliki kesatuan gagasan jika memiliki subjek,
predkat dan fungsi-fungsi kalimat lainnya saling mendukung dan memebentuk
kesatuan tunggal. Dengan demikian, kalimat haruslah mengandung unsur subjek dan
predikat sebagai unsur inti sebuah kalimat. Kehadiran unsur-unsur lain (objek,
predikat, ataupun keterangan) hanyalah sebagai tambahan bagi unsur inti.
contoh:
Kalimat yang jelas
kesatuan gagasannya
a. Kita merasakan
dalam kehidupan sehari-hari, betapa emosi itu seringkali merupakan tenaga
pendorong yang amat kuat dalam tindakan kehidupan kita (Kesatuan Tunggal).
b. Dia telah
menginggalkan rumahnya jam enam pagi, dan berangkat dengan pesawat satu jam
yang lalu(Kesatuan Gabungan)
c. Ayah bekerja di
perusahaan pengankutan itu, tetapi ia tidak senang deengan pekerjaan itu.
(Kesatuan yang mengandung pertentangan).
d. Kau boleh menyusul
saya ke tempat itu, atau tinggal saja disini (kesatuan pilihan).
Ø Kepaduan/Koherensi
Yang dimaksud dengan
kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang
disampaikannya tidak terpecah-pecah.
- Kalimat tidak bertele-tele dan harus sistematis
- Kalimat padu menggunakan pola aspek-verbal atau aspek-verbal-pasien.
- Diantara presikat kata kerja dan objek penderita tidak disisipkan kata
daripada/tentang.
Yang dimaksud dengan
koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang
baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk
kalimat itu. Bagaimana hubungan anatar subyek predikat dan predikat, hubungan
antara predikat dengan obyek serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan
tiap-tiap unsur pokok tadi.
Ada beberapa hal yang
dapat menyebabkan kerusakan koherensi yaitu:
1) Tempat kata dalam
kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat
benar: Saudara saya
yang paling kecil kemarin sore menendang bola di lapangan, dengan sekuat
tenaganya.
salah: Saudara saya
yang paling kecil menendang dengan sekuat tenaganya kemarin sore di lapangan
bola.
2) Salah mempergunakan
kata-kata depan, kata penghubung dan sebagainya.
benar: mengharapkan
belas kasihan
salah:
mengharapakan akan belas kasihan
3) Pemakaian kata,
baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau
hakikatnya mengandung kontradiksi.
contoh:
Banyak para peninjau
yang menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsungitu merupakan Perang Dunia
di Timur Tengah (atau banyak peninjau atau para peninjau; makna banyak dan para
tidak tumpang tindih).
4) Salah menempatkan
keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum, dsb) pada kata kerja tanggap.
contoh:
baik: Saya sudah
menonton film itu hingga tamat
kurang baik: Saya
sudah nonton film itu hingga tamat.
tidak baik: Film itu
saya sudah tonton hingga tamat.
Ø Kehematan
Unsur lain yang
penting untuk mencapai kalimat efektif adalah kehematan. Yang di maksud dengan
kehematan ialah kehematan yang mempergunakan kata, frase, atau bentuk lain yang
di anggap tidak perlu. Dalam arti tidak mengubah kejelasan kalimat. Penghematan
disini juga menghindari kata-kata yang mubazir, sejauh tidak menyalahi
kaidah-kaidah tata bahasa.
contoh:
Bunga-bunga mawar,
ayelir dan melati
sangat disukainya.
Pemakaian kata bunga-bunga
dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir, dan malati
terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar
adalah:
Mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Ø Penekanan
Kalimat yang
dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
1) Mengubah posisi
dalam kalimat, yakni dengan cara meletakan bagian yang penting di depan
kalimat.
contoh:
- Harapan kami adalah
agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain
- Pada kesempatan
lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
2) Menggunakan
partikel: penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel -lah, -pun, dan -kah.
contoh:
- Saudaralah yang
harus bertanggung jawab dalam soal itu.
- Kami pun turut dalam
kegiatan itu.
- Bisakah dia
menyelesaikannya?
3) Menggunakan
repitisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.
contoh:
contoh:
Dalam membina hubungan
anatar suami istri, antara guru dan murid, anatar orang tua dan anak, antara
pemerintah dan rakyat. diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami
antara satu dan lainnya.
4) Menggunakan
pertentangan, yakni menggunakan kata yag bertentangan atau berlawanan
makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin di tegaskan.
contoh:
- Anak itu tidak
malas, tetapi rajin
- Ia tidak menghendaki
perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan menyeluruh.
Ø Kevariasian
Keefektifan dalam
penulisan tergambar dalam struktur kalimat yang di pergunakan. Ada kalimat
pendek, dan kalimat panjang. Kalimat yang panjang dapat membuat pembaca
kehilangan pegangan akan ide pokok, dan membosankan, sehingga menjadi monoton.
Oleh sebab itu perlu dilakukan variasi kalimat.
1) Dalam variasi
kalimat, kalimat pembuka dapat dimulai atau dengan frase benda, frase
kerja, dan frase keterangan.
contoh:
- Si Badu dari Universitas Indonesia menganggap hal ini
sebagai hasil yang gemilang. (kalimat ini dimulai dengan frase benda)
- Dibuang jauh-jauh pikiran
yang menghantuinya selama ini. (kalimat ini dimulai dengan frase kerja)
- Pukul 15.00 Wib Pesta
Olahraga Asia Tenggara XIV dibuka oleh bapak Presiden Susilo Bambang
Yudoyono. (kalimat ini dimulai dengan frase Keterangan)
2) Variasi dalam Pola
Kalimat
a. anak itu
tidak mengerti mengerti dengan masalah itu.
S
P
O
b. Kalimat mengerti
anak itu dengan masalah itu.
P S
O
Ø Kelogisan
Kalimat efektif harus
mudah dipahami. Dalam hal ini unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan
yang logis/masuk akal.
contoh:
Waktu dan tempat saya
persilahkan
Kalimat ini tidak
logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak
dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya:
Bapak penceramah, saya
persilakan untuk naik ke podium.
Ø Keparalelan atau Kesejajaran
Adalah kesamaan bentuk
kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika bentuk pertama
menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama
menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya menggunakan kata
kerja berimbuhan me- juga.
contoh:
Kakak menolong anak
itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
Kakak menolong ana itu
dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Harga sembako
dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak efektif)
Ø Kecermatan dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.
- Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah
- Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat (1) memiliki
makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi
Kalimat (2) memiliki
makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima
ribu rupiah.
Perhatikan kalimat
berikut.
- Yang diceritakan menceritakan
tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan menteri.
Kalimat ini salah
pilihan katanya karena memiliki dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan
dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi
- Yang diceritakan
ialah putra-putri raja, para hulubalang dan para menteri.
KERANGKA
KARANGAN
Kerangka karangan
adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Kerangka
karangan yang belum final di sebut outline sementara sedangkan kerangka
karangan yang sudah tersusun rapi dan lengkap disebut outline final.
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas,susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan, atau dapat juga didefinisikan sebagai satu metode dalam pembuatan karangan yang mana topiknya dipecah kedalam sub-sub topik dan mungkin dipecah lagi kedalam sub-sub topik yang lebih terperinci.
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas,susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan, atau dapat juga didefinisikan sebagai satu metode dalam pembuatan karangan yang mana topiknya dipecah kedalam sub-sub topik dan mungkin dipecah lagi kedalam sub-sub topik yang lebih terperinci.
Fungsi &
Manfaat Kerangka Karangan
Fungsi Kerangka
Karangan yaitu:
- Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan
sistematis.
- Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap permasalahan.
- Membantu menyeleksi materi yang penting maupun yang tidak penting.
Sedangkan Manfaat Kerangka
Karangan sendiri adalah:
- Untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
- Untuk menyusun karangan secara teratur. Kerangka karangan membantu
penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga
dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara
gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah
disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
- Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap
tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum
mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang
berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga
mempunyai klimaks tersendiri dalam bagiannya. Supaya pembaca dapat
terpikat secara terus menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan
bagian-bagian harus diatur pula sekian macam sehingga tercapai klimaks
yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
- Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan
suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap
bagian dari karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali
atau lebih tidak perlu, karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak
menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya
mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu berbeda dengan yang
diutarakan pada bagian kemudian, atau bahkan bertentangan satu sama lain.
Hal yang demikian ini tidak dapat diterima. Di pihak lain menggarap suatu
topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau
memang tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian
mana topik tadi akan diuraikan, sedangkan di bagian lain cukup dengan
menunjuk kepada bagian tadi.
- Memudahkan penulis mencari materi pembantu. Dengan mempergunakan
rincian-rincian dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari
data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya.
Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian
mana dalam karangannya itu. Bila seorang pembaca kelak menghadapi
karangan yang telah siap, ia dapat menyusutkan kembali kepada kerangka
karangan yang hakekatnya sama dengan apa yang telah dibuat penggarapnya.
Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta
nilai umum dari karangan itu. Kerangka karangan merupakan miniatur atau
prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan
tersebut dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara
menyelurih, bukan secara terlepas-lepas.
Syarat-Syarat
Kerangka Karangan Yang Baik
1. Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas. Pilihlah topik yang merupakan hal yang khas, kemudian tentukan tujuan
yang Jelas. Kemudian buatlah tesis atau pengungkapan maksud.
2. Tiap unit hanya mengandung satu gagasan. Bila satu unit terdapat lebih dari satu gagasan, maka unit tersebut
harus dirinci.
3. Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus
disusun secara logis, sehingga rangkaian
ide atau pikiran itu tergambar jelas.
4. Harus menggunakan simbol yang konsisten. Pada dasarnya untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah-langkah awal
untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang memudahkan kita dalam
mengembangkan karangan.
Pola Susunan
Kerangka Karangan
Secara garis besar,
pola kerangka karangan dibagi menjadi dua yaitu pola alamiah dan pola logis,
berikut akan di jelaskan secara singkat pola susunan kerangka karangan.
Ø Pola Alamiah
Merupakan suatu urutan unit–unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Disebut pola alamiah karena memakai pendekatan berdasarkan faktor alamiah yang esensial. Pola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan waktu.
Pola alamiah dapat terbagi menjadi 3 yaitu :
Merupakan suatu urutan unit–unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Disebut pola alamiah karena memakai pendekatan berdasarkan faktor alamiah yang esensial. Pola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan waktu.
Pola alamiah dapat terbagi menjadi 3 yaitu :
- Urutan Berdasarkan Waktu (kronologis). Urutan kronologis adalah urutan yang didasarkan pada runtunan
peristiwa atau tahap-tahap kejadian berdasarkan
kronologinya. Peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.
- Urutan Berdasarkan Ruang (spasial). Urutan spasial merupakan urutan yang didasarkan pada ruang atau
tempat yang biasanya digunakan dalam tulisan bersifat deskriptif.
- Topik yang ada. Suatu pola
peralihan yang dapat di masukkan dalam pola alamiah adalah urutan
berdasarkan topik yang ada . Suatu peristiwa sudah di kenal dengan
bagian–bagian tertentu . Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap,
mau tidak mau bagian–bagian itu harus di jelaskan berturut–turut dalam
karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya,
tanpa memberi tanggapan atas bagian–bagiannya itu.
Ø Pola Logis
Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu di tuang dalam suatu susunan atau urutan logis . Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis.
Dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikir atau cara pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika. Pola logis dapat dibagi menjadi 6, yaitu :
Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu di tuang dalam suatu susunan atau urutan logis . Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis.
Dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikir atau cara pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika. Pola logis dapat dibagi menjadi 6, yaitu :
a. Urutan klimaks dan
anti klimaks
Posisi suatu rangkaian
yang penting berada pada akhir rangkaian disebut urutan klimaks. Sedangkan
posisi yang yang penting berada di awal karangan disebut anti klimaks.
b.Kausal
Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab . Pada pola pertama suatu masalah di anggap sebagai sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan perincian–perincian yang menelusuri akibat–akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan–persoalan yang di hadapi umat manusia pada umumnya.
Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab . Pada pola pertama suatu masalah di anggap sebagai sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan perincian–perincian yang menelusuri akibat–akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan–persoalan yang di hadapi umat manusia pada umumnya.
c. Urutan pemecahan
masalah
Urutan pemecahan
masalah dimulai dari suatu masalah tertentu kemudian berkembang menuju
kesimpulan umum atau pemecahan suatu masalah tersebut. Landasan pemecahan
masalah terdiri dari 3 bagian, yaitu :
- Deskripsi : Mengenai persoalan
atau masalah
- Analisa :
Mengenai sebab akibat dari persoalan
- Alternatif : Untuk jalan keluar suatu
masalah
d.Umum khusus
Dimulai dari pembahasan topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan pembahasan secara terperinci (khusus).
Dimulai dari pembahasan topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan pembahasan secara terperinci (khusus).
e. Familiaritas
Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal, kemudian berangsur–angsur pindah kepada hal–hal yang kurang di kenal atau belum di kenal. Dalam keadaan–keadaan tertentu cara ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.
Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal, kemudian berangsur–angsur pindah kepada hal–hal yang kurang di kenal atau belum di kenal. Dalam keadaan–keadaan tertentu cara ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.
f. Akseptabilitas
Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca.
Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca.
Langkah-Langkah
Penyusunan Kerangka Karangan
1. Menentukan tema dan judul
Tema sangat
terpengaruh terhadap wawasan penulis. semakin banyak penulis membiasakan
membaca buku, semakin banyak aktifitas menulis akan memperlancar penulis
memperoleh tema. namun, bagi pemula perlu memperhatikan beberapa hal penting
agar tema yang diangkat mudah dikembangkan. diantaranya :
- Jangan mengambil tema yang bahasannya terlalu luas.
- Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini dapat kita kembangkan.
- Pilih tema yang sumber atau bahan-bahannya dapat dengan mudah kita
peroleh.
- Judul tidak harus sama dengan topik.
- Jika topik sekaligus menjadi judul, biasanya karangan akan bersifat
umum dan ruang lingkupnya sangat luas.
- Judul dibuat setelah selesai menggarap tema, sehingga bisa terjamin
bahwa judul itu cocok dengan temanya.
- Sebuah judul yang baik akan merangsang perhatian pembaca dan
akan cocok dengan temanya.
- Judul hanya menyebut ciri-ciri yang utama atau yang terpenting dari
karya itu, sehingga pembaca sudah dapat membayangkan apa yang akan
diuraikan dalam karya itu.
- Ada judul yang mengungkapkan maksud pengarang, misalnya dalam sebuah
laporan eksposisi.
Syarat judul yang baik
:
- Harus relevan, judul harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau
dengan beberapa bagian yang penting dari tema tersebut.
- Judul harus dapat menimbulkan keingintahuan pembaca terhadap isi buku
atau karangan.
- Harus singkat, tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang
panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat.
Bila harus membuat judul yang panjang, ciptakanlah judul utama yang
singkat dengan judul tambahan yang panjang.
- Tidak provokatif.
Judul karangan yang
baik :
- singkat dan padat
- menarik perhatian
- menggambarkan garis besar (inti) pembahasan
2. Mengumpulkan bahan
Bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan, banyak cara mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara masing - masing sesuai juga dengan tujuan tulisannya.
Bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan, banyak cara mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara masing - masing sesuai juga dengan tujuan tulisannya.
3. Menyeleksi bahan
Agar tidak terlalu
bias dan abstrak, perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan.
polanya melalui klarifikasi tingkat urgensi bahan yang telah dikumpulkan dengan
teliti dan sistematis. Berikut ini petunjuk-petunjuknya :
- Hal penting semampunya.
- Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
- Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah.
4. Membuat kerangka
Kerangka karangan
menguraikan tiap topik atau masalah menjadi beberapa bahasan yang lebih fokus
dan terukur. Kerangka karangan belum tentu sama dengan daftar isi atau uraian
per bab. Kerangka ini merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah
dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna.
Tahapan dalam menyusun
kerangka karangan :
- Mencatat gagasan. Alat yang mudah digunakan adalah pohon pikiran
(diagram yang menjelaskan gagasan-gagasan yang timbul)
- Mengatur urutan gagasan
- Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab
- Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap
- Kerangka karangan yang baik adalah kerangka yang urut dan logis.
Karena bila terdapat ide yang bersilangan, akan mempersulit proses
pengembangan karangan. (karangan tidak mengalir).
5. Mengembangkan kerangka karangan
Proses pengembangan
karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan materi yang hendak di tulis.
Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat
dengan kreatif, mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang
dikumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan.
pengembangan karangan juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan
yang lain. Untuk itu pengembangannya harus sistematis, dan terarah. Begitu juga
dengan pengembangannya.
SUMBER : http://masagusfaisal.blogspot.com/2013/12/makalah-kerangka-karangan-outline.html
Modul pembelajaran Bahasa Indonesia MATRA kelas XI semester 1 hal 22-27 Cilangkap: Media Presindo.
https://www.scribd.com/doc/58742827/BAHASA-ILMIAH
SUMBER : http://masagusfaisal.blogspot.com/2013/12/makalah-kerangka-karangan-outline.html
Modul pembelajaran Bahasa Indonesia MATRA kelas XI semester 1 hal 22-27 Cilangkap: Media Presindo.
https://www.scribd.com/doc/58742827/BAHASA-ILMIAH